SELAMAT DATANG,,
TERIMAKASIH BERKENAN MAMPIR,,,,
KONCO LAN SEDULUR KU,,

Tuesday, July 27, 2010

Kesenian di Tuban

Seni tari masih tetap eksis di daerah Tuban sebagai seni pergaulan sampai sekarang. Karena warga, terutama kalangan pria dewasa maupun orangtua, masih sangat menggandrungi para penari.
Kesenian Sandur
Kesenian Sandur adalah tradisi untuk mengungkapkan rasa kegembiraan setelah musim panen. Kesenian ini diawali dengan tari-tarian yang dibawakan oleh empat peraga laki-laki yang disebut Cawik, Pethak, Balong dan Tansil. Puncak acara ini dilakukan pada tengah malam dengan atraksi kalongking yaitu seorang pemain berjalan di atas tambang dengan ketinggian sekitar 15 meter dari permukaan tanah, kedua ujung tambang diikat pada batang bambu yang di tancap di tengah-tengah lapangan. Ketika berada di tengah tambang pelaku kalongking langsung melakukan tapa kalong dengan posisi kepala di bawah dengan kaki mengait tambang.
:: ::
Kesenian Tayub
Tayub merupakan salah satu kesenian tradisional Tuban dan merupakan peninggalan dari budaya leluhur yang telah memasyarakat secara turun menurun. Penari Tayub biasanya terdiri dari 2 orang sampai dengan belasan penari. Para penonton dapat ikut serta menari bersama dengan penari Tayub. Acara akan semakin ramai dan hangat ketika penari Tayub yang disebut sindir menyanyikan gending-gending (lagu) yang sedang in dan digemari oleh penonton, sehingga akan banyak penonton yang turut serta menari dengan gerakan tari yang mereka bisa lakukan. Sindir biasanya selalu memenuhi keinginan penonton dengan melantunkan lagu yang diminta. Tarian ini biasanya diselenggarakan untuk memeriahkan acara perrnikahan, khitanan, atau acara keluarga lainnya. Acara berlangung selama sehari atau bahkan sampai dua hari, tergantung pesanan dari penyewa tarian tersebut.

Monday, May 24, 2010

Sekilas Tentang kota tuban

Kabupaten Tuban adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya berada di kota Tuban. Luasnya adalah 1.904,70 km² dan panjang pantai mencapai 65 km. Penduduknya berjumlah sekitar 1 juta jiwa. Tuban disebut sebagai Kota Wali karena Tuban adalah salah satu kota di Jawa yang menjadi pusat penyebaran ajaran Agama Islam. Beberapa obyek wisata di Tuban yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Makam Wali, contohnya Sunan Bonang, Makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi (Palang), Sunan Bejagung dll. Selain sebagai kota Wali, Tuban dikenal sebagai Kota Seribu Goa karena letak Tuban yang berada pada deretan Pegunungan Kapur Utara. Bahkan beberapa Goa di Tuban terdapat stalaktit dan Stalakmit. Goa yang terkenal di Tuban adalah Goa Akbar, Goa Putri Asih, dll. Tuban terletak di tepi pantai pulau Jawa bagian utara, dengan batas-batas wilayah: utara laut Jawa, sebelah timur Lamongan, sebelah selatan Bojonegoro, dan barat Rembang dan Blora Jawa Tengah

Kabupaten Tuban terdiri dari 20 kecamatan yaitu: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Grabagan, Widangdan 17 kelurahan yaitu :Doromukti, Sidorejo, Kingking, Kebonsari, Mondokan, Latsari, Sidomulyo, Karang Sari, Ronggomulyo, Baturetno, Sukolilo, Perbon, Sendangharjo, Kutorejo, Karang, Gedongombo, Panyuran

Di kota Tuban kita bisa mengunjungi beberapa obyek wisata, di antaranya Gua Akbar, Masjid Agung, Makam Sunan Bonang,Ngerong Rengel, Pemandian Bektiharjo, Air Panas Prataan, Air Terjun Nglirip,Goa Suci,Makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi dan Pantai Boom. Cenderamata khas yang bisa dibeli adalah kain tenun (batikgedog) dengan motif yang sangat khas. Motif khas ini juga bisa kita temui dalam bentuk kaos, baju wanita, dan selendang. Selain itu, Tuban juga terkenal sebagai kota Tuak (atau toak dalam bahasa lokal). Tuak adalah cairan (legen)dari tandan buah pohon lontar (masyarakat menyebutnya uwit bogor) yang difermentasikan sehingga sedikit memabukkan karena mengandung alkohol. Sedianya legen dibuat menjadi gula jawa, atau dapat juga langsung diminum sebagai minuman yang menyegarkan dan tentu saja, tidak memabukkan, selain itu buah dari pohon lontar (ental atau siwalan ) ini juga bisa dimakan dan berasa manis serta kenyal.

Thursday, April 8, 2010

Gua Putri Asih: Keajaiban Alam dari Kota Tuban

Bagi mereka yang berjiwa muda dan senang berpetualang, pesona obyek wisata Gua Putri Asih tak pernah dilewatkan begitu saja. Rasa penasaran akan tantangan dan keindahan, menjadi daya tarik tersendiri untuk menjelajahinya. Apalagi, di dalamnya bisa dijumpai aneka gugusan relief batuan atau stalaktit yang sangat menakjubkan.

Ingin menyaksikan keindahan stalaktit? Tak perlu pergi ke Gua Altamira di Spanyol atau Gua Mammoth dan Gua Carlsbad di Amerika. Karena, di Tuban, Jawa Timur, terdapat Gua Putri Asih. Gua yang terletak di Kecamatan Montong, tepatnya di tengah-tengah kawasan hutan jati petak 37, RPH Nguluhan, BKPH Mulyoagung, wilayah Perum Perhutani KPH Parengan ini memiliki stalaktit yang tak kalah menarik.

Dibanding gua-gua lainnya yang pernah diketemukan di dalam kawasan hutan. boleh jadi gua ini merupakan aset wisata yang paling menakjubkan. Maka tak salah jika banyak pihak meyakini bahwa gua yang baru diketemukan pada 7 September 2002 lalu itu, kelak mampu mengalahkan pesona gua-gua yang telah diketemukan sebelumnya, seperti Gua Akbar di lingkungan Pasar Baru Tuban; Gua Maharani di Paciran, Lamongan; Gua Lowo di Tulungagung; atau Gua Jatijajar di Kebumen. Jawa Tengah.

Sebab, ukuran gua itu jauh lebih besar dibanding Gua Akbar, yang selama ini dikenal sebagai gua terbesar di Tuban. Bebatuannya pun tak kalah indah dengan Gua Maharani, yang selama ini dikenal memiliki stalaktit dan stalakmit nan indah.

Ketika pertama kali diketemukan, aparat Perhutani setempat langsung melakukar upacara ritual, agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Bahkan, untuk mengakrab gua baru itu beberapa pegawai dan karyawan Perhutani KPH Parengan mengadakar Yasinan.

Ada dua dugaan asal-usul gua baru itu. Ada yang mengatakan, gua itu duh me maka tempat seorang putri yang sangat cantik. Indikasinya, ada bau wewangian di salah satu sudut gua. Tepatnya, di dekat pintu masuk ruangan IV, yang sementara ini merupakan batas akhis gua tersebut.

Selain itu, ada juga yang beranggapan bahwa gua tersebut dihuni hewan-hewan liar seperti harimau dan srigala. Indikasinya, di dalam gua tersebut ditemukan fosil gigi dan taring harimau yang umurnya diperkirakan telah mencapai ratusan tahun.

Lalu, dugaan mana yang benar? Sampai saat ini belum ada yang berani menjawab. Yang jelas, penemuan gua baru itu tak sama dengan gua-gua lainnya, khususnya dalam hal bau gua. Gua. Putri Asih baunya wangi dan tidak ada kelelawar di dalamnya. Keadaan lantai guanya pun cukup bersih, tidak ada kotoran sama sekali.

Karena berbeda dengan gua-gua lainnya itulah, maka gua yang baru diketemukan itu diberi nama: Gua Putri Asih. Konon, nama itu merupakan hasil pembicaraan dengan tokoh masyarakat dan kiai setempat. Maksud dari pemberian nama Putri Asih, sekedar untuk menghargai leluhur yang mungkin dulu pernah menghuni gua itu.

Dilihat dari luar, memang tak terlihat kalau di dalam gua itu tersimpan keindahan batuan stalaktit dan stalakmit. Petualangan yang indah di dalam Gua Putri Asih ini, dimulai dari gerbang utama lorong masuk pintu gua.

Untuk sementara ini, dari hasil penggalian yang sudah dilakukan, baru diketemukan empat ruangan gua. Sudah barang tentu tidak menutup kemungkinan jumlah ruangan gua ini akan terus berkembang, jika penggalian diteruskan menelusuri lorong-lorong gua. Konon, menurut cerita masyarakat setempat, loronglorong gua itu bisa tembus ke Laut Jawa. Benar atau tidak, memang masih perlu penelitian lebihjauh.

Yang jelas, pada tiap bagian ruangan gua terdapatjenis stalaktit yang berbeda. Ada yang menjulur dan terurai seperti selendang, ada yang gemerlapan seperti batu permata, ada yang ornamennya seperti buah catur, dan ada pula yang mirip dengan patung yang timbul dari dalam tanah.

Untuk masuk ke dalam gua, ada tigajalan yang bisa dipilih. Pertama, melalui anak tangga dari tali dengan ketinggian sekitar 20 meter. Kedua, melalui anak tangga dari bambu dengan tinggi sekitar 10 meter. Ketiga, melalui anak tangga setinggi dua meter, kemudian menelusuri lorong gua. Bagi yang takut ketinggian, jalan paling mudah dan paling aman adalah jalan yang terakhir.

Setelah menelusuri jalan pintu masuk gua tersebut, terdapat satu ruangan gua yang cukup lebar. Ruangan ini merupakan ruangan utama, setelah pintu masuk. Di dalam ruangan ini, sinar matahari masih bisa menembus lantai dasar gua.

Dari ruangan pertama, jika perjalanan dilanjutkan akan membawa kita ke dalam ruangan kedua yang tidak begitu lebar. Aneka stalaktit yang memukau kita, akan dapat dijumpai di ruangan kedua ini. Ada yang bercahaya dan bersinar gemerlapan seperti bola kristal, ada pula yang berwana putih kemilau seperti batu permata.
Setelah menelusuri lorong yang cukup sempit sepanjang kurang lebih 5 meter, kita akan sampai pada bagian ruangan ketiga. Di dalam ruangan yang tidak seberapa lebar ini terdapat ornamen-ornamen gua yang sangat memukau. Aneka bentuk stalaktit dapat dijumpai di sini. Bahkan, ada yang mirip patung gajah atau binatang lainnya yang seolah-olah muncul dari dalam perut bumi.

Perjalanan selanjutnya menelusuri gua Putri Asih ini, akan membawa kita ke dalam ruangan atau bagian IV. Di sinilah bau wewangian itu berada. Memang suasananya terkesan lain dibandingkan dengan bagian gua sebelumnya. Sebab, selain ruangannya paling sempit hingga jumlah pengunjung dibatasi, ada terkesan suasana magis tersendiri jika berada di dalam ruangan ini. Suasananya yang sunyi dan gelap, sedikit mencekam perasaan kita.

Untuk sementara ini, baru empat bagian gua itulah yang berhasil digali. Tapi tidak menutup kemungkinan, jika penggalian diteruskan, bagian-bagian atau ruangan gua itu akan bertambah lagi. Nah, kapan ke sana?

Sumber: SuaraMerdeka

Saturday, April 3, 2010

Berwisata di tuban

Pengunjung harus merunduk ketika memasuki salah satu celah kecil dalam gua. Celah seluas sekitar 50 cm x 30 cm tersebut hanya cukup untuk satu orang. Karena itu harus antri satu-satu untuk masuk ke celah itu.. Setelah melewati celah kecil tersebut pengunjung sampai di sebuah ruangan seukuran sekitar 2 m x 4 m setinggi 2 ,5 m. Gua kecil di dalam gua tersebut bernama Pasepen Kori Sinandhi. Hingga saat ini, kadang-kadang ada orang bermeditasi di dalam gua kecil tersebut. Karena itulah disebut pasepen yang berarti tempat bertapa (meditasi). Pasepen Kori Sinandhi hanya salah satu gua kecil di dalam Gua Akbar. Gua yang ditemukan pada 1998 ini merupakan gua terbesar di Tuban, Jawa Timur, sekitar 100 km dari Surabaya, ibukota Jawa Timur. Melalui jalur darat perlu waktu sekitar 2 jam. Tuban merupakan kota tua di bibir pantai utara Jawa Timur. Karena letaknya ini, pada 1275 , Tuban sudah menjadi pelabuhan bagi saudagar Cina yang datang ke Jawa. Beberapa pedagang Cina tersebut menetap di kota yang resmi dinamakan Tuban pada 12 November 1293 ini. Tuban termasuk salah satu kota kecil dengan komunitas Cina yang kuat. Kebudayaan Cina tersebut terlihat pada klenteng-klenteng (tempat ibadah orang Budha Cina) di Tuban. Salah satunya adalah Klenteng Kwan Sing Bo, di tepi jalan Deandles Tuban. Klenteng ini unik karena menggunakan kepiting pada pintu gerbangnya. Padahal biasanya klenteng menggunakan naga. Klenteng di kelurahan Karangsari, Tuban ini tidak hanya dikunjungi umat setempat tapi juga umat dari Malaysia dan Singapura. Tuban juga mempunyai peran dalam penyebaran agama Islam di Jawa. Salah satu dari sembilan wali (wali songo), kelompok penyebar agama Islam di Indonesia, berasal dari Tuban yaitu Sunan Bonang. Makam Sunan Bonang, di areal masjid Agung Tuban, di sebelah barat alun-alun kota menjadi tempat ziarah umat Islam di Indonesia, juga tempat wisata bagi umat lain. Desain masjid Agung dengan menara-menara runcing menjadi daya tarik tersendiri. Selain klenteng Kwan Sing Bo dan masjid Agung, objek wisata lain di Tuban adalah museum Kambang Putih, pemandian air panas Prataan, pantai Panyuran, serta ratusan gua. Saking banyaknya gua di Tuba, kota ini juga biasa disebut Kota Seribu Gua. Potensi wisata ini didukung transportasi dan hotel yang mudah. Tuban masuk jalur utama perjalanan darat dari Surabaya ke Jakarta. Sedangkan hotel tersedia di beberapa tempat dengan harga antara Rp 25.000- Rp 250.000. Tempat wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan lokal adalah Gua Akbar itu tadi. Gua yang masuk kelurahan Gedongombo, kecamatan Semanding ini berjarak sekitar 1 km dari pusat kota, sehingga sangat mudah dicapai. Sejarah berdirinya Kota Tuban, kedatangan saudagar Cina, hingga cerita tentang Sunan Bonang tergambar di relief di halaman gua seluas sekitar dua hektar ini. Pengunjung gua menjelajah gua menyusuri jalan berpaving dan berpagar besi. Di beberapa bagian gua ada pendapa yang sekaligus menjadi tempat istirahat. Ada tempat duduk di sana. Sebenarnya stalaktit dan stalakmit di gua ini tidak terlalu bagus. Paling tidak masih kalah dengan Gua Maharani yang berada di Paciran, Lamongan, sekitar 30 km dari Tuban. Namun karena guanya luas, tempat ini lebih tertata sehingga terkesan menarik. Dalam sehari ribuan wisatawan datang ke tempat ini. Penataan gua terlihat melalui penamaan tempat-tempat tertentu. Penamaan tersebut, menurut Agus Pramono, 42 tahun, pemandu lokal, disesuaikan bentuk stalaktit maupun stalakmit. Misalnya Pendapa Sangga Langit karena tempat ini bentuknya seperti pendapa ( tempat pertemuan) dengan empat pilar seperti menyangga langit. Cahaya redup di gua membuat suasana temaram sehingga gua terlihat lebih berwarna merah. Pendapa ini, kata pemandu yang bekerja sejak 1998 tersebut, dulunya juga digunakan Wali Songo untuk berkumpul. Pendapa lain di dalam gua ini adalah Pertapaan Andong Tumapak, Pendapa Watu Lapak, Pertapaan Sela Kumambang, Pendapa Sela Gumelar, dan Mahapandhapa Sri Manganti. Pendapa terakhir tersebut paling luas dari semua pendapa. Luasnya sekitar 20 m x 20 m dengan tinggi sekitar 5 m. Pendapa ini biasanya digunakan beristirahat dan berfoto. Di tempat ini ada pula Sasono Budo Budoyo, tempat orang bermain irama musik lokal. Salah satunya paguyuban kota tuban. Stalaktit maupun stalakmit di Gua Akbar bentuknya beragam. Ada yang seperti harimau sehingga disebut Sela Sardula, berarti batu harimau. Stalakmit lain dinamakan Sela Turonggo karena sekilas berbentuk kuda. Di sebelah stalakmit ini ada telaga kecil yang menurut Agus dalamnya mencapai 35 meter. Beberapa wisatawan memanfaatkan air tersebut untuk cuci muka, bahkan ada yang meminumnya. Perlu waktu antara 30 menit sampai satu jam untuk menjelajahi seluruh bagian gua. Hingga kemudian berakhir di sebuah musholla di dalam gua. Ini menjadi daya tarik tersendiri. Hal lain yang menarik adalah karena persis di atas gua ini ada Pasar Baru, pasar terbesar di Tuban. Karena itu, tidak susah untuk mencari souvenir untuk dibawa pulang. Batik Tuban bisa jadi pilihan souvenir yang menarik. Sebab batik dari sutra ini hanya diproduksi di kabupaten Tuban seperti desa Margorejo, kecamatan Ngerek; desa Bongkol, kecamatan Tuban; dan desa Karang, kecamatan Semanding. Pembuatannya secara tradisonal baik pemintalan benang maupun pembatikannya. Batik buatan tangan yang sudah menembus pasar internasional ini tersedia di setiap kios sehingga, harganya bersaing. Berdasarkan UU No. 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Kabupaten di Jawa Timur termasuk Kabupaten Tuban. Sejarah Pemerintahan diawali pada jaman kerajaan Mojopahit tepatnya ketika peristiwa agung pelantikan Ronggolawe untuk menjadi Adipati Tuban pertama oleh yang mulia Raja Mojopahit Raden Wijaya. Pelantikan dilakukan pada tanggal 12 Nopember 1293 yang akhirnya oleh Pemda Tuban ditetapkan sebagai Hari Jadi Tuban. Sedang sejarah pengembangan Agama Islam diawali dengan kepeloporan Sunan Bonang dan murid kesayangannya Sunan Kalijaga yang asli Putra Tuban sekitar abad ke 13.

Sunday, February 28, 2010

NAMA - NAMA BUPATI TUBAN


Nama-nama Bupati Tuban
Periode kepemimpinan di Kabupaten Tubandapat dikelompokkan menjadi dua periode yaitu sebelum periode kemerdekaan ( 39 Bupati ) dan setelah kemerdekaan ( 13 Bupati ). Dari 52 Bupati yang Pernah memimpin Kabupaten Tuban tercatat dipimpin oleh Bupati wanita 2 kali yaitu Dra. Hj. Haeny Relawati Rini Widyastuti, M.Si.

Berikut nama-nama Bupati Tuban Dan Periode Kepemimpinannya.Nama-nama Bupati Tuban Sebelum Kemerdekaan RI: Bupati ke I Dalam pemerintahan Raden Arya Dandang Wacana negara dan rakyat selalu dalam keadaan aman dan sejahtera, pencuri perampok tidak dikenal oleh penduduk. Sandang pangan berlimpah-limpah, penduduk tak pernah merasa kekurangan. Siang malam selalu ramai, hampir tak ada bedanya. Oleh karena itu penduduk sangat cinta dan kasih kepada sang Bupati Raden Arya Dandang Wacana. Setelah 3 tahun memegang pemerintahan Raden Arya Dandang Wacana memerintahkan membuat Pesanggrahan. Bupati pertama dari Kabupaten Tuban ialah Raden Arya Dandang Wacana (Kyai Ageng Papringan, sebab Raden Arya Dandang Wacanalah yang mendirikan kabupaten dengan nama Tuban. Menurut babad Tuban karangan E.J. Jasper, Tuban merupakan daerah Andahan, (vazalstaat) dari Majapahit, sejak Arya Dikara menjadi Bupati Tuban, bupati yang terakhir ini (yang ke 6 dari daftar Bupati Tuban) setelah mempunyai menantu Syeh Ngabdur¬rahman, kemudian memeluk agama Islam (abad ke15). Kyai Ageng Papringan berputra 2 orang, yakni Nyai Ageng Lanang Jaya dan Nyai Ageng Ngeksa. Nyai Ageng Lanang Jaya berputra seorang yang diberi nama Raden Ronggolawe, Nyai Ageng Ngeksa berputra seorang yang diberi nama Raden Arya Kebo Anabrang. Bupati ke II Setelah neneknya mangkat (Kyai Ageng Papringan) yang menggantikan jadi bupati yakni cucunya Raden Hariyo Ronggolawe. Setelah Raden Hariyo Ronggolawe memegang tampuk pemerintahan, rumah kabupaten dipindah sebelah barat Guwo Akbar. Bekas kabupaten sekarang dipergunakan untuk makam Bakung Kecamatan Semanding). Bupati ke III Sesudah Raden Ronggolawe mangkat, Raden Sirolawe menggantikan ayahnya menjadi Bupati Tuban. Beliau memerintah selama 15 tahun dan mangkat. Bupati ke IV Raden Hariyo Sirolawe berputra seorang bernama Raden Hariyo Sirowenang dan setelah ayahnya mangkat ia menjadi bupati. Pemerintahan Sirolawe berlangsung selama 43 tahun. Bupati ke V Setelah Raden Hariyo Sirowenang mangkat, diganti oleh puteranya, Raden Hariyo Lena. Pemerintahan berlangsung selama + 52 tahun dan pada pemerintahannya rumah kabupaten dipindahkan ke Desa Doromukti (Kecamatan Kota Tuban). Bupati ke VI Setelah mangkatnya Raden Hariyo Leno, Raden Hariyo Dikara puteranya menggantikan menjadi bupati. Beliau memerintah selama 18 tahun dan kabupatennya berdiri tetap di Desa Doromukti. Beliau mempunyai putera 2 orang yakni : Raden Ayu Hariyo Tejo dan Kyai Ageng Ngraseh. Kemudian Raden Ayu Hariyo Tejo menjadi isteri Syeh Ngabdurahman, putera Syeh Jali/Syeh Jalaludin/Kyai Makam Dawa/Ngalimurtala dari Gresik (saudara Sunan Ngampel). Sejak pemerintahan Bupati Raden Dikara, Bupati Tuban memeluk agama Islam. Bupati ke VII Setelah Bupati Raden Hariyo Dikara mangkat yang menggan¬tikan menantunya Syeh Ngabdurahman dan kemudian berganti nama Raden Hariyo Tejo. Beliau memerintah selama + 41 tahun (tahun 1460). Dibawah pemerintahan Bupati Raden Hariyo Tejo inilah, maka Tuban sebagai daerah andalan Majapahit, turut memberontak membantu Raden Patah melawan Brawijaya. Majapahit jatuh kedalam kekuasaan Raden Patah tahun 1478, yang kemudian menjadi Sultan Demak dan sejak itu Tuban ada di bawah Demak. Bupati ke VIII Raden Hariyo Tejo mempunyai seorang putera yang diberi nama RadenHariyo Wilatikta dan setelah ayahnya mangkat, beliau yang menggantikan. Pemerintahan Bupati Hariyo Wilatikta ini berlangsung selama + 40 tahun. Bupati ke IX Setelah Raden Hariyo Wilatikta mangkat, yang menggantikan menjadi bupati ialah Kyai Ageng Ngraseh, yang kemudian kawin dengan Putera Raden Hariyo Wilatikta. Setelah memerintah + 40 tahun mangkat. Bupati ke X Perkawinan Kyai Ageng Ngraseh dengan putra putri Raden Hariyo Wilatikta berputera seorang yang diberi nama Kyai Ageng Gegilang yang kemudian menggantikan ayahnya. Pemerintahannya berlangsung selama + 38 tahun. Bupati ke XI Penggantian Kyai Ageng Gegilang ialah yang bernama Kyai AgengBatabang. Beliau mangkat setelah memerintah selama 14 tahun lamanya. Bupati ke XII Pengganti Bupati Kyai Ageng Batabang ini putra tunggalnya ialah Raden Hariyo Balewot. Beliau memerintah selama + 56 tahun kemudian mangkat.


Bupati ke XIII Bupati Hariyo Balewot mempunyai 2 orang putra yakni Pangeran Sekartanjung dan Pangeran Ngangsar. Setelah Bupati Raden Hariyo Balewot mangkat yang menggantikan ialah puteranya sulung yaitu Pangeran Sekartanjung. Bupati ini terbunuh waktu beliau sedang bersembahyang Jum’at dengan ditusuk Pusaka Lilam Upih yang bernama Kyai Loyan dari belakang oleh adiknya yaitu Pangeran Ngangsar. Tusukan ini menembus punggung dan dada dan akhirnya Bupati Pangeran Sekartanjung mangkat. Pemerintahannya berlangsung selama + 22 tahun dan mempunyai putra 2 orang yaitu Pangeran Hariyo Permalat dan Hariyo Salampe, waktu ayahnya mangkat kedua putranya masih kecil. Bupati ke XIV Pengganti Bupati Pangeran Sekartanjung ialah adiknya Pangeran Ngangsar. Baru memerintah 7 tahun beliau mangkat. Bupati ke XV Setelah Bupati Pangeran Ngangsar mangkat, yang menggantikan ialah Pangeran Hariyo Permalat, sekira pada tahun 1568 bupati ini kemudian kawin dengan putra putri Kanjeng Sultan Pajang (Raden Jaka Tingkir), Raden Jaka Tingkir menjadi Sultan Pajang tahun 1568 dan Tuban termasuk daerah kekuasaannya. Beliau mempunyai seorang putra diberi nama Pangeran Dalem. Setelah memerintah selama + 38 tahun kemudian mangkat, pada masa itu Pangeran Dalem masih kecil.


Bupati ke XVI Karena Pangeran Dalem masih kecil, maka yang menggantikan Bupati Pangeran Hariyo Permalat ialah Hariyo Salampe. Pemerintahan bupati ini berlangsung selama + 32 tahun dan kemudian mangkat.




Bupati ke XVII Setelah Bupati Hariyo Salampe mangkat, digantikan oleh Pangeran Dalem . Pada masa pemerintahan, beliau memindah rumah kabupaten ke Kampung Dagan (Kota Tuban) sebelah selatan Watu tiban. Di samping itu beliau mendirikan masjid dan benteng di luar kota, terletak di Guwo Akbar membujur dari timur ke barat. Pembuatan benteng ini, Kyai Mohammad Asngari yang ditugaskan, sebagian dari benteng ternyata belum dapat diselesaikan pada waktunya. Dan ketika hal ini diketahui oleh Bupati Pangeran Dalem, Kyai Mohamad Asngari dipanggil menghadap ke kabupaten. Setelah Kyai Mohamad Asngari menghadap, Bupati Pangeran Dalem memerintahkan agar benteng tersebut lekas dapat, diselesaikan, dan bilamana tidak, Kyai Mohammad Asngari akan menerima hukuman, hal mana disanggupi. Dengan hati sedih Kyai pulang dan pada malam harinya ia bersamadi. Permintaannya, dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa dan pada pagi harinya benteng yang dimaksud telah jadi dengan megahnya. Hal mana sangat mengagumkan penduduk di sekitarnya juga Bupati Pangeran Dalem. Karena indah lagi besar, maka benteng tersebut oleh Pangeran Dalem diberi nama Benteng Kumbakarna. Dan sejak itu pulalah maka Kyai Mohammad Asngari termashur karena kesaktian ilmunya. Hal pembuatan benteng terdengar juga oleh Sultan Mataram Hanyakra Kusuma saudara dari Martadipura putra dari Panembahan Seda Krapyak (Panembahan Seda Krapyak putra dari Sutawijaya), dan diketahui pula bahwa Bupati Pangeran Dalem akan melepaskan diri dari Sultan Mataram (1614). Hal tersebut dapat diketahui oleh Sri Sultan dengan bukti Benteng Kumbakarna yang didirikan oleh Bupati Pangeran Dalem. Untuk membuktikan dugaan tersebut Sri Sultan secara diam-diam mengirimkan utusan ke Tuban untuk menyelidiki akan kebenarannya. Yang mendapat tugas menjadi mata-mata ialah Kyai Randu Watang. Dalam menjalankan tugas mata-mata tersebut, Kyai Randu Watang setibanya di Tuban menanam 2 batang pohon randu alas sebagai tanda bukti bahwa Kyai Randu Watang telah sampai di Tuban. Tugas yang diberikan oleh Sri Sultan dapat dilaksanakan dengan baik, dan dapat diketahui olehnya bahwa benar-benar Bupati Pangeran Dalem ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Kemudian ia lekas-lekas kembali ke Mataram untuk melaporkan hal tersebut kepada Sri Sultan. Setelah Sri Sultan mendengarkan laporan itu beliau sangat murka. Untuk mencegah maksud Bupati Pangeran Dalem tersebut, Sri Sultan mengirimkan 35.000 orang prajurit yang dipimpin oleh Pangeran Pojok ke Tuban. Sebaliknya Bupati Pangeran Dalem setelah mendengar bahwa Prajurit Mataram akan menyerang Tuban, beliau memerintahkan kepada semua prajurit berjaga-jaga akan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kedatangan prajurit-prajurit Mataram disambut dengan pertempuran oleh Prajurit Tuban. Pertumpahan darah terjadi, dan kedua belah pihak menderita kerugian yang besar. Mula-mula prajurit-prajurit Tuban disemua medan mendapat kemenangan, tetapi karena jumlah prajurit Mataram lebih banyak, maka akhirnya Prajurit Tuban banyak yang lari dan menyerah (1619). Setelah diketahui bahwa Prajurit Tuban banyak yang lari dan menyerah Bupati Pangeran Dalem melarikan diri ke Pulau Bawean. Tetapi di Pulau Bawean beliau tidak lama tinggal kemudian pergi ke Desa Rajekwesi (Bojonegoro sekarang). Pada waktu itu Rajekwesi masih merupakan hutan dan di bawah pemerintahan Jipang Panolan.


Setelah menetap 5 tahun lamanya di Rajekwesi, Pangeran Dalem mangkat dan dimakamkan di Desa Kadipaten terletak di sebelah timur Kota Bojonegoro. Hingga kini makam tersebut masih ada, terkenal dengan nama makam Buyut Dalem. Pada waktu peperangan sedang berkobar, meriam pusaka Kyai Sidomurti yang ditempatkan di Desa Kepohdondong (Palang) hilang tak berbekas. Menurut E.J. Jasper, meriam tersebut asal hadiah dari Portugis atau dari Belanda dan jatuh di tangan Tentara Mataram. Setelah peperangan berakhir dengan kekalahan Tuban, Pangeran Pojok segera memberi laporan kepada Sri Sultan. Atas perintah Sri Sultan, Pangeran Pojok diizinkan menjadi bupati di Tuban.




Bupati ke XVIII Pangeran Pojok memegang pemerintahan selama + 42 tahun. Pada Hari Gerebeg Maulud tahun Dal semua bupati di seluruh tanah Jawa datang ke Mataram untuk menghadap Sri Sultan. Demikian pula halnya dengan Bupati Pangeran Pojok. Tetapi ketika perjalanan beliau menuju Mataram sampai Blora, beliau mendadak sakit dan mangkat di situ juga. Jenazahnya dimakamkan di sebelah selatan alun-alun Blora. Pada waktu beliau mangkat para putra masih kecil, oleh karena itu tidak dapat menggantikan jadi bupati.


Bupati ke XIX Penggantinya ialah Pangeran Anom adik Pangeran Pojok. Dan setelah Pangeran Anom memegang pemerintahan selama 12 tahun atas perintah Sri Sultan, Pangeran Anom diberhentikan dari jabatan. Di Kabupaten Tuban untuk sementara waktu, jabatan bupati ditiadakan dan hanya diberi perwakilan (Umbul) 4 orang yakni : 1. Wongsoprojo bertempat di Jenu, 2. Wongsohito bertempat di Gresik, 3. Wongsocokro di Kidulngardi, 4. Yudoputro bertempat di Singgahan. Bupati ke XX Selanjutnya yang jadi bupati ialah Pangeran Sujokopuro atau Yudonegoro dan kabupaten bertempat di Prunggahan Kulon (Kecamatan Semanding).




Bupati ke XXI Untuk mengisi lowongan jabatan bupati di Tuban, setelah Yudonegoro, oleh Sri Sultan diangkat Arya Balabar atau Arya Blender asal dari Mataram. Dan pemerintahan Arya Blender, rumah kabupaten dipindahkan ke Kampung Kaibon yang terletak di sebelah selatan makam Kyai Kusen (Kota Tuban). Beliau mangkat setelah memerintah + 39 tahun, membuat masjid sebelah barat makam Sunan Bonang.


Bupati ke XXII Pengganti Bupati Arya Balabar ialah Pangeran Sujonoputro, Bupati Japanan (Mojokerto). Pada masa pemerintahan bupati ini rumah kabupaten dipindahkan ke Desa Prunggahan (Semanding), pemerintahan beliau berlangsung selama 10 tahun, kemudian mangkat dan dimakamkan di Desa Boto. Bupati ke XXIII Yang menggantikan ialah Putra Pangeran Judonegoro. Beliau mangkat setelah memerintah 15 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Giri.




Bupati ke XXIV Setelah Bupati Pangeran Yudonegoro mangkat, penggantinya adalah Raden Arya Surodiningrat, bupati dari Pekalongan. Pada masa pemerintahan Raden Arya Surodiningrat, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Arya Diposono dan dibantu oleh Kyai Mangunjoyo asal dari Madura. Bupati Arya Surodiningrat mangkat dalam peperangan melawan kaum pemberontak setelah memegang pemerintahan selama 12 tahun lamanya. Bupati ke XXV Setelah dapat mengalahkan Bupati Raden Arya Suryodiningrat, Raden Aryo Diposono menggantikan jadi bupati. Setelah 16 tahun lamanya beliau memerintah Kabupaten Tuban, terjadilah peperangan melawan orang Madura. Peperangan ini berlangsung di Desa Singkul atau Sedayu. Raden Aryo Diposono mangkat dalam peperangan ini. Jenazahnya dimakamkan di Desa Singkul juga. Bupati ke XXVI Kyai Reksonegoro Patih Tuban setelah itu menjadi bupati berganti nama Kyai Tumenggung Cokronegoro. Mangkat setelah memerintah selama 47 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Desa Dagangan (Kecamatan Parengan). Karena banyak berjasa kepada negara, Kyai Tumenggung Cokronegoro diberi pangkat kehormatan “Adipati”, Menurut J.E. Jasper tahun 1773 Gubernur van de Burgh mengusulkan pada Sultan Mataram supaya Bupati Tuban Mas Reksonegoro atau Mas Tumenggung Cokronegoro dipecat, karena pemerintahannya memberatkan penduduk dan tak dapat memenuhi tugasnya membayar upeti pada pemerintahan Belanda.




Bupati ke XXVII Pengganti Adipati Cokronegoro ialah putranya yakni Kyai Purwonegoro. Ketika pemerintahan Bupati Purwonegoro ini berlangsung + 24 tahun, beliau sakit dan mengambil perlop atau cuti dan pergi ke Demak. Sakit beliau tidak berkurang, bahkan makin parah, akhirnya mangkat dan jenazahnya dimakamkan di Demak juga. Bupati Purwonegoro juga terkenal dengan sebutan Bupati Perlop, yakni asal dari kata “perlop” atau “cuti”. Bupati ke XXVIII Setelah Bupati Purwonegoro mangkat, penggantinya ialah Bupati Kyai Lieder Surodinegoro (Lieder = Ridder in de Orde van Oranje Nassau = nama bintang jasa). Pemerintahan Bupati Kyai Lieder Surodinegoro ini hanya berlangsung selama 3 tahun dan kemudian mangkat.


Bupati ke XXIX Setelah Bupati Lieder Suryoadiwijoyo mangkat, diganti oleh putranya, yakni Raden Suryoadiwijoyo atau Raden Tumenggung Suryodinegoro. Pada masa pemerintahannya beliau memerintahkan memindah rumah kabupaten ke Kampung Gowah (Desa Sendangharjo Tuban). Pembuatan rumah kabupaten ini dapat diselesaikan pada tanggal 1 Juli 1814. Pemerintahan Bupati Raden Suryoadinegoro ini berlangsung selama 12 tahun dan berhenti. Bupati ke XXX Pengganti Bupati Raden Suryoadinegoro ini adalah Bupati Pangeran Citrasoma ke VI, asal Bupati Jepara atau nomor VI urutan dari Jepara. Pemerintahan Bupati Pangeran Citrasoma ke VI ha¬nya berlangsung selama 6 tahun, kemudian dipindahkan ke Lasem. Selama 3 tahun, terus dipindahkan lagi ke Jepara. Pembuatan ru¬mah kabupaten tahun 1821, yang menjadi tempat kediaman para bupati sampai sekarang.


Bupati ke XXXI Pengganti Bupati Pangeran Citrasoma ke VI ini ialah Bupati PangeranCitrasoma ke VII atau dihitung dari Tuban, Citrasoma II. Setelah memerintah selama 20 tahun mangkat.




Bupati ke XXXII Pengganti Bupati Citrasoma ke VII ialah Bupati Pangeran Citrasoma ke VIII atau dari Tuban ke III. Memerintah selama 20 tahun, kemudian pensiun. Bupati ke XXXIII Pengganti Bupati Pangeran Citrasoma ke VIII, ialah Bupati Raden Tumenggung Panji Citrasoma ke IX atau Tuban ke IV, setelah memerintah 22 tahun kemudian dipensiun. Bupati ke XXXIV Setelah Bupati Raden Tumenggung Citrasoma ke IX pensiun, diganti oleh Raden Mas Somobroto tahun 1892, setelah memerintah 4 bulan mangkat, jenazahnya dimakamkan di makam Astana Bonang. Bupati ke XXXV Setelah Raden Mas Tumenggung Somobroto mangkat diganti oleh menantunya ialah Raden Adipati Arya Kusumodigdo. Beliau mangkat setelah memerintah selama 16 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Astana Makampati Tuban (tahun 1893¬1911). Bupati ke XXXVI Pengganti Raden Adipati Arya Kusumodigdo kakaknya RadenTumenggung Pringgowinoto asal Patih Rembang 1911-1919. Pada tahun 1920 di Tuban dimulai jalan Kereta Api NIS. BUPATI KE XXXVII : R.AA.PRINGGODIGDO/KUSUMODININGRTA 1919-1927 BUPATI KE XXXVIII : R.M.A.A. KUSUMOBROTO 1927-1944 BUPATI KE XXXIX : R.T. SUDIMAN HADIATMODJO 1944-1946 Nama-nama Bupati Tuban Setelah Kemerdekaan RI: BUPATI KE XL : R.H. Mustain 1946-1956 .



BUPATI KE XLI : R. Sundaru 1956-1958 BUPATI KE XLII : R. Istomo 1958-1960 BUPATI KE XLIII : M. Widagdo 1960-1968 BUPATI KE XLIV : R. Soeparmo 1968-1970 (p.d.) (Penyusun Catatan Sejarah Tuban) BUPATI KE XLV : R. H. Irchamni 1970-1975 BUPATI KE XLVI : H. Moch. Masdoeki 1975-1980 BUPATI KE XLVII : Surati Moersam 1980 - 1985 BUPATI KE XLVIII : Drs. Djoewahiri Marto Prawiro 1985 - 1991 BUPATI KE XLIX : Drs. H. Sjoekoer Soetomo 1991- 1996 BUPATI KE XLX : Hindarto 1996 - 2001 BUPATI KE XLXI : Dra. Haeny Relawati Rini Widiastuti, MSi 2001 - sampai sekarang.